Bahaya Filter Bubble dan Mengandalkan Mesin Pencari Google

Akhir-akhir ini saya kepikiran terus untuk nerusin draft tulisan tentang "filter bubble". Dan jadi semakin terpacu untuk menulis permasalahan filter bubble karena dihadapkan dengan ketidakberdayaan saya sebagai blogger receh menghadapi sisi gelap mesin pencari google. 

Pertama kita akan bahas tentang filter bubble yang mengkotak-kotakkan jaringan sosial media seseorang alih-alih menghubungkan manusia dengan manusia lain di seluruh dunia. Filter bubble yang mengurung manusia dalam sebuah lingkaran pertemanan dan informasi ini memang seperti pisau bermata dua. Jika Anda terjebak atau menjebak diri Anda sendiri ke sebuah gelembung pertemanan yang positif dan kredibel,maka filter bubble yang seperti ini bisa dibilang positif.

Tapii jika filter bubble sosial media yang menjebak Anda adalah lingkaran orang-orang dengan interest yang negatif,maka celakalah Anda.Karena pemikiran dan informasi yang Anda dapat akan dibentuk oleh jalinan pertemanan dan sumber informasi yang berseliweran di timeline Anda,sadar atau tidak.

Makanya penting sekali mem filter tipe-tipe teman,grup,sumber berita apa saja yang Anda ikuti di platform sosial media yang Anda mainkan. Dalam dunia sosial media,akun kita layaknya sebuah televisi dan kita sebagai pemegang remotnya. Apapun yang ingin kita lihat,kita like atau sukai,maka itulah yang disajikan ke kita. Sisi negatifnya jelas kadang kita tidak bisa mendapat informasi yang berimbang dari kedua sisi karena yang hadir atau disarankan ke hadapan kita hanya orang-orang atau informasi setipe yang pernah atau sering kita sukai. Dan itulah yang dinamakan sisi negatif filter bubble.


Lalu bagaimana dengan sisi kelam google browser?"

Sebuah mesin pencari bernama "Google" yang didirikan oleh 2 orang sahabat Larry Page dan Sergey Brin yang waktu itu masih berstatus mahasiswa Stanford University Amerika,berkembang pesat dan merajai mesin pencari manapun di dunia. Di Indonesia sendiri sering kita dengar kalimat super membosankan,yaitu "tanya aja mbah google" .


Apa jawaban "mbah google" selalu tepat dan akurat? Apa informasi yang mbah google berikan selalu bisa di yakini kebenarannya?" Tentu saja jawabannya tidak. 
Semua yang tau tentang SEO (Search Engine Optimization) pasti paham bagaimana sebuah halaman situs bisa nangkring diurutan teratas pencarian google atau biasa disebut blogger  tampil di pejwan (page one)? Yak benar,limpahan backlink,iklan dan teknik SEO njlimet itulah yang membuat sebuah situs  tampil dihalaman pertama pencarian google

Bagaimana jika situs itu memuat informasi yang tidak tepat tapi orang dibalik situs itu jago SEO dan punya modal beriklan di google? Lalu bagaimana jika sebaliknya? Nah inilah yang harus kita sadari,bahwa begitulah cara kerja sekaligus sisi gelap mesin pencari. Dia bekerja berdasarkan alogaritma mesin pencari itu sendiri

Kesimpulanya,"filter bubble" ini merupakan alogaritma mesin pencari dan platform sosial media yang sadar atau tidak kita ciptakan sendiri melalui kegiatan browsing dan jejak kita dalam akun sosial media yang akibatnya bisa mengurung intelektualitas kita sendiri.
Nah untuk menyiasati cara kerja alogaritma google yang bisa memberikan informasi yang kurang tepat ini akan dibahas pada artikel selanjutnya.

 Terimakasih sudah membaca.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bahaya Filter Bubble dan Mengandalkan Mesin Pencari Google"

Post a Comment